Teguh Dalam Prinsip
Setengah
abad lebih kehidupan yang saya jalani, penuh lika-liku. Itulah tanda kehidupan yang dinamis. Berubah seiring jarum tam yang tak berhenti
berdetak.
Semenjak
kecil penuh tantangan, internal dan eksternal.
Fitnah dan santet adalah dua diantaranya yang hingga kini tiada
berakhir. Makin intens dan tinggi
kualitasnya.
Tidak
ada yang cerita soal kematian ibu kami, tapi ketika ada tetangga yang sangat menderita
panjang menjelang azal sehingga beliau bersusah payah meminta maaf kepada kami
atas segala yang diperbuatnya kepada orangtua kami. Barulah kami ngeh, tapi apa lacur, ibu
meninggalkan kami saat kami masih teramat kecil. Kematian beliau adalah awal penderitaan
kami. Sebuah takdir yang tidak bisa
dipungkiri. Apapun jalan kepergiannya.
Adapun
ada yang mengakui pernah beberapa kali disuruh dan mengantar orang ke dukun
santet untuk menyantet orangtua kami.
Kami yang sudah kelewat dewasa tentu hanya bisa memaafkan. Semoga beliau tidak mengalami siksa kubur
yang sepedih perjalanan kehidupan kami selanjutnya.
Bukan
hanya itu, di dunia kerja, yang berisi para pemikir logis. Mereka yang menentang semua yang tidak bisa
masuk akal. Ternyata hal non-logis
menjadi bagian kehidupan kami selanjutnya.
Ketika
penyakit datang pada kami, sebagaimana orang lain maka dokter menjadi
solusi. Sampai akhirnya dokterpun melihati
ada yang tidak masuk akal dengan analisis keilmuan yang dimiliki dengan hasil
analisa laboratorium.
Pernah
dirawat di rumahsakit hingga berbilang minggu, tanpa penyakit yang jelas. Diagnosa awal selalu dibantah dengan hasil
lab sehingga akhirnya muncullah praduga penyakit baru. Tidak kurang dari 4 macam penyakit
dituduhkan, gak ada yang pas dengan pembuktian.
Ujung-ujungnya ya…. Pulang sajalah!
Ternyata hanya dengan sebuah nanas matang penyakit itu lenyap dengan
sendirinya.
Ternyata
itu bukanlah yang terakhir, perjalanan hidup selanjutnya penuh dengan penyakit
misteri. Sepanjang bisa ditangani medis,
ya bagian merekalah. Tetapi lebih banyak
yang misterius…..
Saya
bersyukur dapat menumpang hidup dalam pelukan kakek dan nenek yang penuh kasih
sayang. Fitnahan dari kiri-kanan tak
mampu mempengaruhi.
Mencuri…. Duh kata-kata itu selalu dituduhkan sejak aku
kecil. Mulai dari uang receh nenek di
kaleng hingga gepokan duit kakek di bawah kasur. Sampai akhirnya para penuduh itu kehilangan logika,
saya yang sedang tugas di Sumatera Barat dan tidak pulang kampung pun,
tahu-tahu dituduh menggasak uang nenek.
Alhamdulillah,
walau pernah gototan lawang dengan pencuri, saya hanya bilang ke kakek kalau
ada si anu sampai tarik-menarik pintu.
Beliau hanya tersenyum, seakan paham soal yang satu ini. Demikian juga pada akhir hayat para pemfitnah
itu, para tetangga menjadi saksi kalau kaleng uang receh nenek berada di lemari
mereka.
Para
tetangga yang menjadi saksi keluar-masuknya orang-orang yang akhirnya bercerita
lain itu di rumah kakek dan nenek, pun akhirnya buka suara. “Enak temen ya, batur sing emet, ira sing
darani nyolong!”
Eeehhh….
Kisah nyolong pun berlanjut hingga tempat kerja. Bahkan dari tempat kerja yang sudah 4 tahun
saya tinggalkan, ada tuduhan pencurian pajak yang terus saya lakukan. Semenjak saya tugas di tempat itu sebenarnya
sudah saya laporkan kepada pimpinan.
Beserta bukti-bukti dan wajib pajak yang bisa dihubungi. Dududuh…. Sapa sing nyolong, reang sing
darani.
Pemilik
tempat kerja yang baru saya tinggalkan pun tak kalah menuduh. Setelah memuntahkan g*bl*g hingga t*l*l di
keramaian para pemohon izin, menghamburkan berbagai isi kebun binatang dan
berbagai ucapan yang tidak pernah saya dengar dari keluarga kami yang miskin
dan tak berpendidikan. Kini beliaupun
tidak henti sesumbar tentang para pencuri yang sering menggerogoti pemohon
izin. Sapa sing ngrampok, reang sing
darani.”
Padahal
ketika saya mendapatkan SK mutasi, saya sampaikan via fb dan blog bahwa saya
sudah pindah kerja di tempat yang baru. Kalaupun
ada yang menghubungi saya via telepon, saya sampaikan kepindahan tugas saya, “Silakan
menghubungi nomor telepon kantor yang bersangkutan ya…. Terimakasih.”
Dua
poin ini begitu mendominasi perjalanan kehidupan. Itulah riak kehidupan yang memperindah air
laut. Semua merupakan aneka warna yang
menjadikan hidup makin indah. Itulah
arti kehidupan yang sebenarnya yang menjadikan hidup benar-benar bermakna.
Begitulah
kehidupan yang terus bergejolak, saya menyikapi semua itu dengan sebuah kalimat
yang ditulis tangan Robert Wolter Monginsidi pada secarik kertas yang terselip
di kitab suci yang selalu menemaninya menunggu regu tembak, “Teguh dalam prinsip!”
Saya selalu yakin bahwa Gusti Beli Turu, Allah swt tidaklah sama dengan makhluk-Nya yang perlu istirahat dan tidur pulas.
Kalaulah saat ini saya sampaikan bantahan atas segala tuduhan maka hasilnya tidak akan lebih baik, dalam diam pun ternyata konspirasi beberapa kali saya alami.
Oleh karena itu, dengan keyakinan penuh bahwa Allah swt tahu segalanya maka saya hanya menanggapi semua itu dengan do'a dan percaya bahwa, "Dia akan menunjukkan di saat yang tepat. Segalanya!!!"
Komentar
Posting Komentar