Sekali....



Ibu Yayah Kepala SD Cemerlang dapat titipan baru, keponakannya yang terkenal cemerlang otaknya.  Ande, murid kelas III SD yang terkenal cerdas dan punya nalar yang melebihi teman seusianya.  Ande bukan hanya sekolah di tempat mengajar beliau tetapi juga tinggal bersama bibinya itu.

Malam itu Ande diantar kedua orangtuanya ke rumah Bu Yayah.  Sebagaimana anak aktif lainnya, Ande segera berkeliling mengenal lingkungan.  Dengan ramah dia menyapa dan memperkenalkan diri kepada para tetangga.  

Keesokan harinya, sopir menjemput Bu Yayah dan Ande ke sekolah…..

Beberapa menit setelah lonceng masuk berdentang, Bu Fajri Guru Kelas III belum juga datang.  Anak baru itu berulah, membuat gaduh seisi kelas. 

Kepala Sekolah menggantikan Bu Fajri sementara sambil menunggu kedatangan guru yang sebenarnya tidak pernah telat itu.

“Anak-anak, apa fungsi jalan umum?”

Hanya Ande berani segera mengacungkan tangannya, “Saya, Bu!”

“Coba sebutkan 3 saja fungsi jalan umum, Ande!”

“Satu untuk parkir mobil kepala sekolah, dua untuk menyimpan jemuran pakaian, ketiga untuk menjemur pakaian!”

Kontan seisi kelas gaduh.  Merah padam muka Bu Yayah mendengar jawaban keponakannya, yang tidak lain adalah fungsi jalan umum di depan rumahnya.

“Ande, buat sepuluh kalimat dengan kata ‘sekali’!”

“Ya, Bu!  Saya pikir sebentar ya Bu…..”

“Cepat!  Ayo anak-anak kita hitung dengan jari!”   Kepala Sekolah mengacungkan jempol, anak-anak mengikuti, “Satu…!”

“Baru sekali ini saya menginap di rumah bibi saya.”

“Dua…”

“Saya kaget sekali melihat lingkungan tempat tinggalnya.”

“Tiga….”

“Pagi-pagi sekali penghuni kompleks sudah sibuk.”

“Empat….”

“Pagi-pagi jalan di depan rumah kami dipenuhi jemuran…..”

“Mana kata ‘sekali’ nya?”  Teriak anak-anak.

“Pagi-pagi jalan di depan rumah kami dipenuhi jemuran pakaian….”  Ande melengkapi kalimatnya, 
“Saya heran sekali!”

“Lima…”

“Sekali lagi saya heran karena itu pakaian bibi saya.”

“Enam…”

“Baru kali ini saya melihat kacamata dan segitiga pengaman besar sekali!”

“Tujuuuuuuuuh!”  Anak-anak menghitung sambil tertawa.

“Saya tanya Pak Sopir mobil jemputan....”

"Sekalinya, mannnnna...?"

"Saya tanya Pak Sopir yang baru sekali itu saya kenal."

“Delapan….”

“Pak Sopir kaget sekali!”

“Sembilan…”

“Kata Pak Sopir, jangan sekali-sekali bilang Ibu Kepala Sekolah!”

“Sepuluh….”

“Pak Sopir kelihatan ketakutan sekali.”

Anak-anak bertepuk tangan dengan riuhnya, semakin rebut dengan siutan mulut anak-anak kecil.  Sudah sedari tadi Bu Yayah sudah tidak ada diantara mereka lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebakaran Bulu

Teguh Dalam Prinsip